Teori Pengukuran dalam pendidikan kini yang paling dan sering digunakan adalah Teori Tes Klasik, tetapi tetapi parameter butir dan parameter peserta saling tergantung sehingga tidak dapat digeneralisasikan untuk kelompok peserta yang lain. Oleh karena itu muncul Teori Respon Butir Item Response Theory yang tidak ada ketergantungan parameter butir dan parameter peserta. Sehingga model ini tepat sekali digunakan untuk pengembangan Bank Butir soal meskipun teori klasik dapat digunakan sebagai pendukungnya.

Item Response Butir menggunakan model ogive normal atau ogive logistik. Adapun jenis-jenisnya adalah tergantung dengan parameter yang digunakan yakni:

  1. Model Logistik 1 Parameter atau dikenal dengan model Rasch yaitu model IRT yang menitikberatkan satu parameter butir soal yakni tingkat kesukaran butir (b). Persamaannya adalah P(\theta)=\frac{e^{(\theta-b)}}{1+e^{(\theta-b)}}
  2. Model Logistik 2 Parameter, model IRT yang melibatkan dua parameter yakni tingkat kesukaran butir (b) dan daya pembeda butir (a). Persamaannya adalah P(\theta)=\frac{e^{a(\theta-b)}}{1+e^{a(\theta-b)}}
  3. Model Logistik 3 Parameter, model IRT yang melibatkan tiga parameter yakni tingkat kesukaran butir (b) dan daya pembeda butir (a) serta faktor tebakan (c). Persamaannya adalah P(\theta)=c(1-c)\frac{e^{a(\theta-b)}}{1+e^{a(\theta-b)}}
    Model yang paling banyak digunakan adalah model yang pertama karena bentuknya yang sederhana dan relatif lebih mudah perhitungannya.Kelebihan model ini dari pada teori tes klasik adalah:

    1. Parameter Butir (Tingkat kesukaran, daya beda dan tebakan) tidak tergantung pada peserta
    2. Sebaliknya Parameter peserta (kemampuan) tidak tergantung pada parameter butir,

    Dalam teori klasik, sebuah soal jika diberikan kepada siswa yang berkemampuan tinggi tingkat kesukarannya akan menjadi kecil (terasa mudah) sebaliknya jika diberikan kepada siswa yang berkemampuan rendah tingkat kesukarannya akan menjadi tinggi (terasa sulit). Selain itu seorang siswa mengerjakan butir yang mudah, kemampuan siswa akan menjadi tinggi sebaliknya jika siswa mengerjakan butir yang sulit, kemampuan siswa akan menjadi rendah.

    Asumsi-asumsi yang harus dipenuhi dalam IRT adalah:

    1. Unidimensionalitas, yaitu mengukur satu dimensi, dalam praktek adalah dimensi yang dominan
    2. Independensi Lokal, jawaban siswa tidak dipengaruhi oleh jawaban siswa yang lain
    3. Invariansi parameter, parameter butir tidak tergantung pada parameter siswa dan sebaliknya parameter siswa tidak tergantung parameter butir, inilah perbedaan pokok Teori Klasik dengan Teori Modern

    Parameter butir (b, a, c) digambarkan dalam sebuah kurva yang dinamakan Kurva Karakteristik Butir (Item Characteristics Curve) atas skala parameter kemampuan siswa (θ) dan Peluang menjawab soal dengan benar (P(θ)).

    Tetapi memang untuk mengestimasi parameter butir (tingkat kesukaran, daya pembeda, dan tebakan) dan parameter siswa (kemampuan) perlu perhitungan yang cukup rumit, untuk IRT model satu parameter masih dapat dihitung dengan kalkulator tetapi untuk dua dan tiga parameter harus dengan bantuan komputer dan software untuk menghitungnya antara lain Xcalibre, Bilog, Ascal Rascal dll.

    Demikian mudah-mudahan dapat menjadikan referensi dalam pengukuran pendidikan khususnya.

Iklan