Sampah pun bisa jadi berkah. Bagaimana caranya? Tentu saja dengan mengolah sampah menjadi barang yang dapat dijual. Tulisan ini mungkin sudah sering Anda baca. Tidak ada salahnya saya ulas kembali agar mengingatkan kita tentang pentingnya mengolah sampah. Belakangan ini banyak sekali orang-orang (produsen) yang peduli akan lingkungan. Mereka mengolah sampah menjadi fashion, aneka kerajinan cantik yang bermanfaat, sampai menjadi pupuk organik. Nah, alangkah indahnya bila semua warga dunia ini seperti mereka. Kalau pun tidak bisa mengolah sampah paling tidak berusaha memisahkan sampah antara sampah kering dan basah. Dengan memisahkan sampah, kita akan membantu para perajin “sampah” untuk mempercepat proses pemilahan sampah.

Bermula dari pelajaran Bahasa Indonesia. Saat itu, kompetensi dasar yang dibahas adalah petunjuk cara melakukan/membuat sesuatu. Siswa kelas VIII SMP yang saya ajar begitu antusias membuat karya dan mempresentasikan proyek mereka. Ada salah satu siswa yang membawa sepasang sandal dari bekas bungkus moccacino merah. Wah, indah sekali. Saya sangat tertarik dengan karya yang dia bawa. Dia menjelaskan di depan teman di kelasnya tentang bagaimana memproses sampah plastik atau bungkus moccacino tersebut menjadi sebuah sandal. Usut punya usut, ternyata ibunya adalah perajin sampah plastik berbagai merek. Wah kebetulan jiwa saya adalah suka penasaran dan ingin belajar. Saya pun mendatangi rumah siswa saya tersebut.

Sandal dari sampah plastik

Asih Nuryani adalah ibu yang mengolah sampah di lingkungan tempat tinggalnya. Beliau adalah ibu dari murid saya. Menurut Beliau, penemuan pengolahan sampah ini berawal di tahun 2005 ketika PKK Minomartani menggelar lomba kreativitas berbasis barang-barang limbah. Saat itu, ada keinginan untuk mengikuti lomba tersebut. Beliau melihat di sekeliling, banyak limbah plastik yang sangat mengganggu dan berbahaya jika dibiarkan begitu saja. Beliau mencoba membuat tutup tudung saji dan celemek. Ternyata, hasilnya sangat baik dan mendapat sambutan cukup bagus. Ibu Asih memenangkan lomba.

Hari berganti hari, Bu Asih mengembangkan ide mengolah sampah plastik. Dia membuat berbagai produk, antara lain dompet, sandal, tudung saji, celemek, tas, dan lain-lain. Jerih payah beliau mendapat sambutan dari berbagai pihak. Beliau sering sekali mengisi acara pelatihan dalam rangka mengolah sampah. Baik itu PKK, LSM, atau perusahaan terkemuka.

Yah, lima tahun lalu Beliau menemukan pengolahan sampah menjadi barang berguna. Dan di tahun 2010, di Indonesia banyak orang yang sukses dengan sampah-sampah olahannya. Entah keterampilan para produsen itu didapat dari mana. Mungkin saja dari Bu Asih atau dari orang-orang yang mengikuti pelatihan Bu Asih kemudian ditularkan ke orang lain. Yang jelas, menularkan ilmu sangat banyak pahalanya. Amien.

Itulah sejarah singkat, ketertarikan saya terhadap sampah. Kembali kepada sampah yang bisa menjadi berkah. Banyak peluang usaha yang bisa dimunculkan dari barang yang dianggap menjijikkan oleh banyak orang. Caranya adalah dengan ide kreatif dan semangat untuk memperbaiki perekonomian keluarga. Contoh-contoh barang yang bisa dihasilkan dari sampah plastik adalah sandal, payung, celemek, tudung saji, taplak meja, keset, dan lain-lain sesuai kreativitas pengolah. Tentu saja, bahan dasar untuk mengolah sampah plastik ini harus ditambah dengan bahan lain. Misalnya jika ingin membuat sandal, tentu saja membutuhkan spon dan plipit. Jika ingin membuat payung maka membutuhkan kerangka payung, dll.

http://green.kompasiana.com/group/limbah/2010/06/23/mari-olah-sampah-agar-dapat-berkah/

Iklan