Tumpukan sampah kerap menjadi masalah. Di samping mengganggu keindahan, sampah juga menjadi sarang penyakit, bahkan bisa mengakibatkan banjir. Namun, warga Dusun Badekan, Trirenggo, Bantul, Yogyakarta, punya cara kreatif untuk mengatasinya.

Berawal dari kesadaran individu, warga mulai mengumpulkan sampah di rumahnya. Sampah tersebut lalu disetorkan ke Bengkel Kerja Kesehatan Lingkungan atau yang lebih dikenal dengan nama bank sampah.

Di tempat ini sampah ditimbang, dicatat dan kemudian ditentukan harga dari sampah tersebut sesuai beratnya. Disinilah letak fungsi bank karena pencairannya dilakukan setiap tiga bulan sekali. Hasil penjualan sampah ini pun cukup lumayan. Bank bisa mendapatkan penghasilan sekitar Rp 500 ribu per bulan. Menurut Bambang Suwerda yang menjadi penggagas bank sampah, masyarakat desa sangat merasakan manfaat bank sampah.

Setelah tiga tahun berjalan, warga yang menjadi petugas bank sampah pun cukup kreatif. Tidak semua sampah dijual ke pihak ketiga. Mereka mulai memisahkan sampah yang bisa diproduksi kembali seperti sampah sterofom yang diolah menjadi hiasan kotak penyangga bendera atau bekas bungkus makanan dan minuman yang disulap menjadi barang kerajinan. Ternyata, jika sampah dikelola dengan baik bisa mendatangkan manfaat.

Iklan